[Rabu, 04 June 2008]
FPI balik laporkan AKKBB ke Polda Metro Jaya. Kapolda tetap teruskan upaya penangkapan sepuluh tersangka, anggota FPI termasuk Munarman. Beliau memberi batas waktu sampai Selasa malam (3/6). Kalau tidak, akan ada penangkapan paksa. Faktanya, jemput paksa baru terjadi pada Rabu pagi (4/6).

Sekitar jam sepuluh Selasa pagi itu (3/6) rombongan Front Pembela Islam (FPI) datang menyantroni Polda Metro Jaya untuk melaporkan balik Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Habib Rizieq Pimpinan FPI didampingi kuasa hukumnya Achmad Michdan berbekal sepuluh laporan yang disertai dengan bukti, salah satunya rekaman.

Aksi AKKBB di pelataran Monas hari Minggu lalu dianggap ilegal karena tidak mengantongi izin. AKKBB juga dinilai tidak mengindahkan peringatan polisi untuk tidak melakukan aksi karena ada kelompok lain, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga mengadakan aksi di sana.

Tuduhan lain yang ditembakkan langsung FPI kepada AKKBB adalah menghasut melalui orasi, melengkapi massa denga senjata api, dan membuat fitnah. Fitnah itu adalah menyebarkan foto Munarman yang sedang mencekik anak buahnya yang bernama Ucok Nasrullah. Ucok diklaim sebagai salah satu demonstran dari massa AKKBB yang berposisi sebagai korban. Padahal, menurut versi FPI, justru komandan laskar Munarman sedang mencegah Ucok menindak keras AKKBB.

Atas pelaporan ini, Irjen Pol Abu Bakar Nataprawira Kepala Divisi Humas Mabes Polri mengatakan siapapun yang melapor sah-sah saja, tetap akan diproses. Namun, akan diselidiki dulu apa ada tindak pidana atau tidak. “Kalau FPI bisa menunjukan rekaman, maka silakan tunjukan,” ujarnya.

Termasuk pada kepemilikan senjata api yang dituduhkan FPI pada anggata AKKBB. Walaupun terbukti tudingan tersebut. Polisi akan mengecek kepemilikan senjata itu legal atau tidak. Abu Bakar menjelaskan, “Legal pun, tetap nggak bisa dibawa ke mana-mana seenaknya karena senjata itu kan untuk membela diri.” Intinya, siapapun silakan saja melapor.

Bantahan AKKBB

Laporan ini secara terpisah ditanggapi oleh Anik HT Koordinator AKKBB. Ia malah berterima kasih sekali kepada FPI karena mau memproses AKKBB secara hukum. Penyelesaian secara hukum dianggap sebagai jalan yang terbaik, dari pada kekerasan. “Artinya, kalau mereka memproses kita secara hukum dia sudah mulai sadar kalau negara kita ini negara hukum,” tukasnya.

Anik menyatakan dengan tegas bahwa AKKBB akan siap. Untuk saat ini, ada beberapa LBH yang akan mendampingi AKKBB. Bukti-bukti yang mematahkan beberapa tuduhan FPI juga sudah dipersiapkan.

Menanggapi tudingan FPI, Anik punya penjelasan sendiri. Ia yang mengurusi tetek bengek aksi itu mengatakan dengan lantang tidak ada aksi massa dengan izin. Yang ada, koordinasi dalam bentuk pemberitahuan ke Polda dan Polres setempat. Ia mengaku sudah berhari-hari berkoordinasi dengan polisi, bahkan sampai hari H pun ia masih kontek-kontekan untuk memantau situasi di lapangan.

Ketika itu, AKKBB memiliki rencana awal akan membuat panggung di Monas. Sayang, rencana gagal karena ada organisasi lain (HTI-red) yang juga membuat acara di lokasi yang sama. Polisi khawatir akan terjadi bentrok, sehingga mau tidak mau AKKBB mengubah setting aksi. “Kita nggak jadi bikin panggung. Di Monas kami hanya ngumpul saja, kita mau jalan ke HI,” kata Anik.

Kemudian, ia juga membantah dikatakan telah melakukan penghasutan dengan menproklamirkan pernyataan FPI adalah laskar setan dan kafir melalui orasi. Seperti pernyataan Anik pada pemberitaan hukumonline sebelumnya, massa AKKBB baru mau merapatkan barisan dan belum sempat untuk berorasi. Ia menegaskan, “Tidak ada yang menyatakan hal seperti itu karena kita pun belum mulai aksi, jadi belum ada orasi-orasi. Kita baru ngumpulin massa.”

Hampir seluruh tuduhan dibantah, tapi ada dua tuduhan yang ditangapi santai tanpa bantahan. Tuduhan penyebaran foto Munarman ke media dibenarkan oleh Anik. AKKBB memang menyebarkan banyak foto dan rekaman ke media untuk memperjelas kondisi penyerangan di lapangan ketika itu. Kalau di media ternyata ada kesalahan informasi, “yah tinggal direvisi,” tuturnya enteng.

Tanggapan santai juga diberikan Anik saat ditanyai soal kepemilikan senjata api anggota AKKBB yang terekam oleh FPI. Dengan nada bicara normal, Anik mempersilakan FPI menunjukkan rekaman itu. “Kita juga ingin tahu siapa sebenarnya yang membawa senjata api itu. Kita sih menduganya intel polisi”. Menurutnya, gampang saja melacak apakah itu anggota AKKBB atau bukan, “Lihat saja pakai pita merah putih atau tidak. Partisipan aksi kami suruh untuk memakai pita merah putih karena kita lagi mengangkat isu kebangsaan.”

Biarlah kedua pihak saling menuding. Yang penting, upaya FPI untuk balik melaporkan AKKBB tidak akan mengacaukan proses hukum yang sedang mengganjal mereka. Pemberitaan Kompas.com pukul 20.37 menyebutkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Adang Firman memperingatkan dengan keras, sepuluh tersangka penyerangan AKKBB agar menyerahkan diri. Ditunggu paling lambat malam ini.

Dicokok pagi

Sebelumnya, Polda telah berkoordinasi dengan Pimpinan FPI dengan membawa daftar nama dan foto sepuluh tersangka. Polda berharap Habib Rizieq mau menyerahkan anak buahnya dalam wakktu dekat. Ada dua opsi. FPI menyerahkan diri atau dijemput paksa jika tak memenuhi tenggat waktu. Sampai malam yang ditunggu -paling lambat jam 12 malam, masih belum ada kabar. Kapolda mengatakan akan melakukan penangkapan paksa jika tersangka tidak menyerahkan diri.

Padahal, pukul 22.55, enam anggota polisi gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat mendatangi kediaman pimpinan FPI yag selalu membalutkan sorban di kepalanya. Seusai pertemuan, polisi pun sangat pelit mengeluarkan informasi. Salah satu polisi yang datang ke sana mengatakan pertemuan itu hanya untuk berbincang dan berkenalan, bukan untuk penangkapan. “Sepertinya tidak malam ini, sabar dan tunggu saja,” ujarnya kepada situs berita Tempointeraktif.

Semalam suntuk anggota FPI berjaga mengamankan kediaman Habib Rizieq. Dalam pemberitaan detik.com, mereka menegaskan tidak takut dan semua yang datang akan dilayani. Sambil bergelar karpet yang dibatasi kawat berduri, mereka berzikir memohon kekuatan dan perlindungan.

Barulah Rabu pagi ini (4/6), selepas pukul enam, rombongan Polda Metro Jaya menyatroni markas FPI di Jalan KS Tubun, Tanah Abang. Lebih dari 50 orang anggota FPI diangkut menuju Polda. Kepada beberapa media, pemimpin FPI Habib Rizieq menegaskan kepada massa FPI, “Berani bertindak, berani bertanggung jawab.” Jemput paksa ini tak menimbulkan bentrok dan berlangsung damai. Pihak kepolisian yang terjun ke lapangan dipimpin oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Heru Winarko dan Kepala Detasemen Antiteror 88 Kombes Rudi Suparhadi.

Nov

Sumber: Hukumonline