Wajah Hafidz Ahmad (50), warga Desa Tri Mulya Kecamatan Sungai Loban Tanah Bumbu (Tanbu), agak pucat.

Ponsel di genggaman laki-laki itu terus berdering. Sejumlah orang juga silih berganti menemuinya. Semua bertujuan sama, menanyakan kepastian pembubaran Ahmadiyah.

Hafidz adalah pemimpin jemaat Ahmadiyah Batulicin. Rumah berukuran 8 x 6 meter di tengah perkebunan karet yang ditempati Hafidz, sering pula dijadikan tempat pengajian. Saat BPost bertandang ke rumah itu, Kamis (17/4), bapak dua anak itu juga serius menatap televisi 20 inci. Dia terus memantau perkembangan berita mengenai nasib organisasi yang telah diikutinya selama puluhan tahun ini.

“Mas dari media ya. Pasti mau menanyakan berita Ahmadiyah yang yang ramai dibicarakan orang sekarang ini. Saya juga memantau terus melalui televisi dan telepon-teleponan dengan rekan di Jawa,” ujarnya.

Rekomendasi Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem) mengenai pembubaran Ahmadiyah, menimbulkan kecemasan para jemaat organisasi tersebut yang berada di daerah.

Disinggung mengenai sikapnya, Hafidz mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada amir nasional (pemimpin Ahmadiyah di Indonesia).

“Meski ketua di daerah ini, saya tidak bisa mengambil keputusan terhadap kebijakan pemerintah. Karena saya masih punya amir yang posisinya lebih tinggi dan menjadi acuan kami. Kami berharap, pemerintah untuk bisa bersikap bijaksana atas semua ini,” tegasnya.

Jumlah anggota Ahmadiyah yang dibina Hafidz ini hanya 12 kepala keluarga. Mereka tinggal di sekitar rumahnya dan membiayai hidup dengan cara berkebun. “Selama amir tidak menghentikan, pengajian akan kami terus jalankan,” tukasnya

Hafidz baru lima tahun tinggal di sini. Sebelumnya dia bertugas di Gorontalo. “Saya sudah keliling Indonesia, kemudian dipindah ke sini dan mendirikan mushala,” ujarnya.

Mengenai dasar rekomendasi pembubaran itu, Hafidz mengatakan yang terjadi sebenarnya hanya perbedaan pemahaman. “Pedoman yang dijalankan untuk melaksanakan ibadah juga sesuai dengan ajaran islam, baik dari sisi akidah, ketauhidan maupun kenabian. Termasuk shalawat yang diucapkan juga sama seperti yang dilafalkan umat Islam lainnya, termasuk masalah kenabian. Meyakini nabi Muhammad SAW sebagai nabi paling akhir,” tutur pria lulusan Ponpes Ahmadiyah di Parung, Jabar ini.

Untuk menjaga agar daerah tersebut tetap kondusif dan aman dari gejolak, aparat Polsek Sungai Loban meningkatkan pengawasan. “Pokoknya jangan sampai ada warga yang anarki,” tegas Kapolsek Sungai Loban, Ipda Eko Sunaryo.

Kecemasan juga menghinggapi jemaat Ahmadiyah Banjarmasin. Mereka pun menunggu keputusan amir nasional. “Lihat televisi , saya merinding. Kenapa harus sampai dibubarkan,” ujar salah seorang jemaat, Oka Mubarakah.

“Ini cobaan. Kami sudah biasa dengan cobaan ini. Sejak saya SMP, sudah dituduh tidak muslim. Yang saya sayangkan dari rekomendasi itu adalah adanya fitnah bagi kami. Semua ditutup-tutupi. Padahal kami terbuka,” timpal Ketua Pengurus Cabang Jemaat Ahmadiyah Banjarmasin, Masriadi Damanik.

Dia mengaku, tidak pernah membaca kitab Tadzkirah yang dituduhkan menjadi kitab suci Ahmadiyah. “Apalagi membaca, menyentuh pun saya tidak pernah. Padahal, kakek-kakek saya sudah Ahmadiyah. Kitab suci kami ya Alquran,” tegasnya.

Masriadi pun mengaku bersyukur dengan sikap toleran masyarakat Banjarmasin. “Tak ada satu pun orang yang mencaci maki, menghujat apalagi merusak milik kami,” katanya. (coi/cc/mdn)

Banjarmasin post, Jumat, 18-04-2008