JALAKSANA – Pergolakan sosial di Desa Manislor, kecamatan Jalaksana kembali muncul. Hal itu menyusul disebarkannya surat dari gabungan ormas Islam di Kuningan yang mengatasnamakan Komponen Muslim perihal penegasan terhadap jamaah Ahmadiyah di desa tersebut.

Sedikitnya 35 aktivis Komponen Muslim melakukan penyebaran surat terhadap seluruh jamaah Ahmadiyah di sana. Sekitar 1.000 lembar surat diberikan kepada setiap rumah yang berjumlah 3.029 jiwa. Tidak hanya penyebaran surat, pada hari itu juga dibentangkan spanduk bertuliskan imbauan jihad terhadap seluruh umat Islam.

Dalam surat yang ditandatangani 17 ormas Islam di Kuningan itu dituliskan bahwa Ahmadiyah pengakuannya beragama Islam. Namun, akidah mereka sangat bertentangan dengan akidah Islam. Oleh karenanya, Ahmadiyah dinyatakan ajarannya sesat menyesatkan dan merusak Islam, maka wajib dimusnahkan.

Untuk menghindari tindak kekerasan, Komponen Muslim menyampaikan penegasan sebanyak tiga poin. Di antaranya, Ahmadiyah segera menanggalkan pengakuannya beragama Islam, segera menghentikan kegiatan sesuai dengan perintah/isi surat keputusan bersama (SKB) dan segera membongkar seluruh tempat kegiatannya.

Penegasan itu diberikan tenggang waktu selama 15 hari sejak diterimanya surat oleh pimpinan jamaah Ahmadiyah Indonesia Cabang Manislor pada 23 November. Jika ketiga opsi itu tidak diindahkan, maka Ahmadiyah dianggap menantang perang kepada umat Islam.

Ketua DKM Al Huda Manislor, H Moch Nasrudin S selaku rois Gerakan Anti Ahmadiyah (Gerah) Desa Manislor menandaskan, itu merupakan gerakan jihad. Sebab, membela agama Allah adalah wajib hukumnya. Ditegaskannya, lebih bahagia jadi muslim penghuni penjara, kelak mati masuk surga daripada jadi muslim di luar penjara/di rumah tapi kelak mati belum tentu masuk surga.

“Perlu diingat, selama ini masih ada asumsi bahwa gerakan kita ini merupakan gerakan untuk mengajak mereka masuk agama Islam. Jadi, kami tegaskan bahwa tujuan kami hanya ingin mereka menanggalkan saja. Terlepas nantinya akan menganut Islam, Kristen atau agama lainnya. Yang kami kejar bukan ibadah tapi akidah,” ujarnya berapi-api.

Deadline surat penegasan itu jatuh pada tanggal 8 Desember. Apabila sampai batas waktu tersebut pihak Ahmadiyah tidak menindaklanjutinya, maka kemungkinan akan terjadi pembongkaran tempat ibadah Ahmadiyah secara paksa. Kemarin saja, selain 35 aktivis Komponen Muslim, puluhan warga lainnya berkerumun. Untungnya sejumlah personel pengaman diterjunkan, sehingga situasi masih tetap terkendali. (ded)

Sumber: Radar Cirebon, 3 desember 2007