Jakarta– Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) bersama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) dan Yayasan Pengabdian Hukum Indonesia (Yaphi) Solo mengecam dan akan melaporkan ke Mabes Polri terhadap kasus pembubaran seminar bertema Memperkuat Ketahanan Masyarakat Sipil tanpa Kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian.

“Kami akan melaporkan ke Mabes Polri untuk menindak aparat polisi di lapangan,” kata salah satu pegiat AKKBB Anick HT kepada Syirah, Selasa (26/06).

Seminar yang diselenggarakan Interaksi Solidaritas Antar Elemen Masyarakat (Insan Emas) bekerjasama Lembaga Pengabdian Hukum Yaphi berlangsung di Rumah Makan Tamansari Solo, pada Kamis (21/06) dibubarkan polisi karena dinyatakan tidak mengantongi surat izin dari kepolisian.

Alasan ini, menurut keterangan Winarso, salah satu penyelenggara, bukanlah alasan yang sebenarnya. Tetapi pembubaran itu dilakukan karena adanya tekanan dari salah satu kelompok Islam garis keras di Solo yaitu Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).

Menurut Anick, pembubaran sewenang-wenang ini jelas melanggar hukum, karena telah melarang warga negara untuk berekspresi dan mengutarakan pendapat.

“Jelas ini melanggar hukum. Kebebasan berekspresi, melakukan seminar itu kan dilindungi oleh hukum,” tegasnya.

Karena yang menjadi eksekutor adalah aparat kepolisian, tutur Anick, pihaknya akan melaporkan kasus ini kepada Markas Besar (Mabes) Polisi Republik Indonesia (Polri) agar diusut tuntas dan menindak aparat polisi di lapangan yang melakukan pembubaran.

“Kalau LUIS yang melakukan pembubaran sendiri, kita akan minta polisi untuk mengusut LUIS. Tapi problemnya mereka (LUIS) mendesak polisi, karena mereka (polisi) takut. Di lapangan jelas-jelas polisi mengaku, ‘kami didesak LUIS melakukan pembubaran ini’,” lanjut Anick.

Menurut rencana, tambah Anick, besok, Rabu (27/06) sekitar 15 orang dari AKKBB, Kontras dan Yaphi akan melakukan konferensi pers dan melaporkan kasus ini ke Mabes Polri.

“Kita mau desak polisi. Karena selama ini kasus serupa tidak dituntaskan oleh polisi. Misalnya, kasus Ahmadiyah di Parung, Bogor,” tandasnya.[]

Sumber: Syir’ah, 26 Juni 2007