Jakarta – Fenomena kekerasan berjubah agama yang terjadi di tanah air disebabkan oleh adanya hukum yang tidak bekerja dengan baik. Penyerangan terhadap pengurus dan simpatisan Partai Persatuan dan Pembebasan Nasional (Papernas) oleh Fron Pembela Islam (FPI) beberapa hari lalu di Jakarta adalah contohnya.

Demikian dikatakan oleh Asfinawaty, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta , Jumat (30/3) lalu  ketika menjadi pembahas dalam Diskusi majalah MaJEMUK yang diselenggarakan oleh ICRP di Universitas Paramadina Jakarta.

Menurutnya, tidak adanya kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tanah air memicu masyarakat untuk menyelesaikan dengan caranya sendiri. Selain itu adanya empat kaidah dalam pengaturan kehidupan manusia juga tidak dipahami oleh masyarakat. Keempat kaidah tersebut adalah, kaidah kepercayaan, sopan-santun, kesusilaan, dan hukum.

“Ada aspek kehidupan pribadi yang diatur oleh kaidah di atas,  dan ada aspek kehidupan antar pribadi yang juga diatur dengan kaidah tersendiri,” tutur alumnus Fakultas Hukum Uiniversitas Indonesia ini.

Untuk aspek kehidupan pribadi, katanya,  kaidah kepercayaan dan kesusilaanlah yang mengatur. Kedua kaidah tersebut sebenarnya lebih mengatur pada diri individu, bukan antar individu.

“Kehidupan antar pribadi diatur dengan sopan santun dan hukum. Sopan santun untuk pola hidup yang baik, sedang hukum supaya ada kedamaian, keadilan dan sebagainya,” papar dara yang aktif di Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) ini.

Berkaitan dengan  berbagai  macam norma-norma, menurutnya, ada pembedaan yang sangat jelas antara pengaturan kehidupan pribadi-pribadi masing-masing orang dengan  pengaturan kehidupan antar pribadi.

“Nah itu mungkin yang coba dicampuradukkan sehingga ada sekelompok orang yang mencoba mengkriminalisasi kepercayaan  atau keberagamaan orang lain, karena dia mau memakai kaidah hukum untuk  kehidupan pribadi, bukan antar pribadi,” terangnya.

Lebih lanjut soal kekerasan bernuasna agama, Asfin, demikian ia biasa disapa,  menilai, bahwa  memang ada kontradiksi di dalam agama itu sendiri. Di satu sisi agama melarang melakukan kekerasan, tetapi, keberagamaan seseorang atau kelompok juga yang melahirkan  kekerasan itu sendiri.

“Tentu ini ironi, di satu sisi agama dapat menimbulkan kebaikan, di sisi lain justru menjadi justifikasi atas tindakan kekerasan,” paparnya prihatin.[]

Sumber: Syir’ah, 2 April 2007