Jakarta- Dalam rangka memperingati hari Perempuan Se-Dunia dan mengapresiasi penganugerahan “Annual Award for International Women of Courage” yang diterima oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA., APU, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) bekerjasama dengan Pusat Study Islam dan Kepemimpinan (PSIK) Universitas Paramadina) akan menggelar acara bertajuk “Sehari Bersama Perempuan: Menghargai Karya Perempuan Mengakhiri Budaya Bisu” besok pada hari Jumat, 30 Maret 2007.

Acara yang akan digelar di Universitas Paramadina Jakarta ini akan dimulai dengan ‘Silaturrahmi dan Bedah MaJEMUK bertema “Pudarnya Dialog yang ‘Dingin’” pada pukul 15.00 – 17.00 WIB dengan menghadirkan pembahas: Prof. Dr. Siti Musdah Mulia (Sekjen ICRP) dan Asfinawaty, SH (Direktur LBH Jakarta).

Seusai acara tersebut, pada pukul 17.00 WIB, akan dilanjutkan dengan Konferensi Pers yang akan menghadirkan GKR Hemas, Dawam Raharjo, Budhi Munawar Rahman, Utomo Danandjaya dan Musdah Mulia. Konferensi Pers ini bertempat di Teras Aula Nurcholish Madjid Universitas Paramadina.

Pada malam harinya, pukul 18.00 WIB, acara akan dilanjutkan dengan “Malam Apresiasi dan Orasi Budaya” yang bertempat di Aula Nurcholish Madjid Universitas Paramadina. Dalam sesi ini sejumlah tokoh sudah menyatakan diri untuk hadir, aantara lain: Saparinah Sadli, Nurul Arifin, Debra Yatim, Maria Ulfa, Ade Rostina, Ommy Nurcholish Madjid, Todung Mulya Lubis, Gadis Arivia, Ayu Utami, dan rekan-rekan Republik Mimpi yang akan turut serta menyemarakkan acara ini.

Terkait dengan penganugerahan “Annual Award for International Women of Courage” yang diterima oleh Musdah Mulia, Sekjen ICRP ini menyatakan bahwa alasan Condoleeze Rice (Menlu AS) memberikan award itu kepadanya adalah karena ia gencar dalam mengkampanyekan anti poligami, anti child marriage (perkawinan dini/anak) sebagai pintu traficking dan keberaniannya dalam mewacanakan sahnya nikah beda agama (interfaith marriage), tetapi juga memfasilitasinya.

“Saya tak menyangka, ketiga hal itu menjadi isu global yang juga diperjuangkan oleh teman-teman seperjuangan di berbagai negara. Tak menyangka pula bahwa perjuangan ini memperoleh penghargaan dari luar negeri,” tutur Musdah beberapa waktu lalu di kantor ICRP, Jakarta Pusat.[]

Sumber: Syir’ah, 28 Maret 2007