Bersama dengan sejumlah tokoh lintas agama, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merayakan ulang tahunnya yang ke-65. Dalam kesempatan tersebut, mantan Ketua Umum PBNU ini menegaskan keinginannya untuk menyaksikan demokrasi tegak di Indonesia.

“Bangsa kita dan negara kita dibangun atas dasar demokrasi. Mudah-mudahan, di sisa umur saya, saya dapat melihat demokrasi tegak di negara kita,” kata Gus Dur dalam sambutannya.

Bagi Gus Dur, menegakkan demokrasi bukanlah pekerjaan mudah, hal ini ia rasakan sendiri dimana banyak rintangan dan hambatan yang harus dihadapi. “Karena itu, saya puas karena apa yang saya jalankan ini pelan-pelan mulai kelihatan hasilnya. Meskipun banyak gangguan, tapi itu adalah hal yang biasa,” lanjutnya.

Dia mengakui bahwa demokrasi telah menjadi bagian dari hidupnya, “Inilah yang menjadi perhatian saya siang malam, dimanapun saya ada, saya selalu mimpi tentang demokrasi,” kata mantan Presiden ke-4 ini.

“Namun saya gembira karena berbeda dengan dulu, sekarang saya tidak sendirian. Dari kalangan Islam ada Dr. A Syafi’i Ma’arif, ada Dr. Syafi’i Anwar, belum lagi yang lain-lainnya,”ungkapnya.

Pada akhir sambutannya, Gus Dur menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada komunitas lintas agama yang telah menyelenggarakan perayaan ini. “Saya merasa sangat berbahagia karena berada di tengah-tengah keluarga saya sendiri. Ini peristiwa yang jarang terjadi,” katanya.

Dengan berseloroh ia mengatakan, dirinya diramal oleh seorang kyai akan berumur 140 tahun. “Lha kalau umur saya segitu, yang lain udah pada gak ada saya tinggal sendirian lagi. Jadi saya tawar aja jadi 80 tahun,” kata Gus Dur disambut tawa para undangan.

Hadir juga dalam perayaan ini sejumlah tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, aktifis LSM, tokoh partai dan pimpinan media massa. Mereka antara lain Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Dr. KH Said Agil Siradj, Salahuddin Wahid, Farha Ciciek. Mahfud MD, Budiman Sujatmiko, Rieke Dyah Pitaloka, Bambang Harymurti dan tokoh dari agama-agama yang ada Indonesia.

Selain itu, sekitar limaratusan aktivis muda NU dan pro-demokrasi memenuhi acara Ultah Gus Dur yang bertajuk “Doa Bersama Merayakan Pluralisme.”

Dalam kesempatan orasi, beberapa tokoh menyampaikan rasa kagumnya terhadap komitmen dan keteguhan Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia.

“Yang saya senangi dari Gus Dur, komitmennya terhadap kawan tinggi, komitmen moralnya tinggi. Namun lebih dari itu, komitmen terhadap penegakan kebenaran, penegakan keadilan, membela kaum yang lemah. Saya kira di zaman seperti sekarang ini sulit untuk mencari orang seperti Gus Dur,” kata Muslim Abdurrahman.

Sementara itu, Todung Mulya Lubis yang mengaku telah 30 tahun dekat dengan Gus Dur menilai bahwa Gus Dur adalah sosok guru bangsa. “Dimanapun ia berada, Gus Dur selalu berbicara tentang pluralisme dan kemajemukan. Ia adalah guru bangsa dan penjaga moral. Dan sebagai penjaga moral, ia punya tempat tersendiri dihati rakyat Indonesia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain,” ungkapnya.

Selain Todung dan Muslim, turut menyampaikan pandangannya tentang Gus Dur dan perkembangan pluralisme di Indonesial yaitu aktivis Muhammadiyah Dawam Rahardjo, Lies Marcoes Natsir dan Syafi’i Anwar, Amir Jamaah Ahmadiyah Abdullah Basith, Pemimpin Anand Ashram Anand Khrisna dan akvis muda NU Abdul Moqsith Ghazali.

Seperti hendak mengabaikan fatwa MUI, acara kemudian dilanjutkan dengan do’a bersama yang dipimpin tokoh-tokoh lintas agama. Merek antara lain, dari Islam KH. Said Aqil Siradj, dari Protestan Pdt. Wainata Sairin, dari Katolik Rm. Padmo, dari Budha Bikhu Dharma Himala, dari Hindu Nengah Dane, dari Kong Hu Chu Binky Irawan, dan dari penganut agama Sunda Wiwitan Pangeran Jati Kusumah dan tokoh agama dari Baha’i.

Dilanjutkan dengan pembacaan Petisi Warga Negara Indonesia (lengkap klik di sini), oleh Koordinator Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Ulil mengatakan petisi ini akan disebarkan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk ditandatangani.

Dalam petisinya, seluruh komponen masyarakat yang hadir menegaskan bahwa warga negara Republik Indonesia, menghendaki agar keadaban publik tegak di negeri yang diwariskan oleh para pendiri bangsa yang menghargai pikiran, keyakinan, dan keragaman.

“Keadaban publik tegak karena negara ditata berdasarkan hukum dan konstitusi yang menjamin hak dasar warganya melaksanakan ibadah sesuai dengan agama, keyakinan, dan kepercayaan masing-masing,” bunyi salah satu butir petisi yang dibacakan Ulil Abshar.

Sumber: Gusdur.net