Aliansi ini dibentuk oleh beberapa lembaga yang concern terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, untuk melakukan kampanye anti kekerasan atas nama agama, dan melakukan advokasi terhadap kelompok-kelompok yang ditindas atas nama perbedaan keyakinan dan agama.
Lembaga-lembaga jaringan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan:
- Indonesian Conference on Religion and Peace
- National Integration Movement
- The Wahid Institute
- Kontras
- LBH Jakarta
- Jaringan Islam Kampus (JaRiK)
- Jaringan Islam Liberal
- Lembaga Studi Agama dan Filsafat
- Generasi Muda Antar Iman
- Crisis Center Gereja Kristen Indonesia
- Institut DIAN/Interfidei
- Masyarakat Dialog Antar Agama
- Komunitas Jatimulya
- ILRC
- eLSAM
- Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
- Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika
- Lembaga Kajian Agama dan Jender
- Pusaka Padang
- Yayasan Tunas Muda Indonesia
- Konferensi Waligereja Indonesia
- Komunitas Utan Kayu
- Anand Ashram
- Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (GANDI)
- Persekutuan Gereja-gereja Indonesia
- Forum Mahasiswa Ciputat
- Jemaat Ahmadiyah Indonesia
- Gerakan Ahmadiyah Indonesia
- Tim Pembela Kebebasan Beragama
- El_Ai_Em Ambon
- Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
- Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
- Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)
- Dinamika Edukasi Dasar (DED) Jogjakarta
- Forum Persaudaraan Antar-Umat Beriman Jogjakarta
- Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Surakarta
- SHEEP Indonesia Jogjakarta
- Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
- Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
- LSM Adriani Poso
- PRKP Poso
- Komunitas Gereja Damai
- Komunitas Gereja Sukapura
- GAKTANA
- Wahana Kebangsaan
- Komunitas Penghayat
- Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia NTB,
- Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
- Forum Komunikasi Lintas Iman Gorontalo
- Crisis Center SAG Manado
- LK3 Banjarmasin
- Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulawesi Selatan Makassar
- Jaringan Antar-iman se-Sulawesi,
- Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG KALSEL) Banjarmasin
- PERCIK Salatiga
- Sumatera Cultural Institut Medan
- Muslim Institut Medan
- PUSHAM UII Jogjakarta
- Swabine Yasmine Flores-Ende
- Komunitas Peradaban Aceh
- Yayasan Jurnal Perempuan
- AJI Damai Yogyakarta
- LBH Padang
- Lensa NTB
- PP Fatayat NU
- Kapal Perempuan
- Aliansi Masyarakat Depok Cinta Damai
- AKUR Bandung
- AKUR NTB
- IPTP
- Rumah Indonesia
- Gerakan Nurani Ibu






59 comments
Comments feed for this article
April 16, 2008 pada 10:29 am
Deasiska Biki
saya Advokat di Jakarta, yang meyakini penuh akan kebebasan beragama & berkeyakinan.
saya ingin sekali bergabung dengan rekan2 di AKKBB, mohon info lebih lanjut bagaimana saya (kantor hukum saya) dapat bergabung dengan rekan2 di AKKBB.
terima kasih.
Salam, Dea Biki
Mei 15, 2008 pada 4:34 pm
Nanang Suryana
Salam kenal dari saya di Bandar Lampung
Mei 17, 2008 pada 1:35 am
poejie
setujuuuuuu !!!!!!!!!! akh arif
Mei 28, 2008 pada 5:27 am
rifki
Saya sangat setuju dengan Mas Arif….
Kebebasan beragama memang sangat penting…
Tapi kebebasan yang seperti apa???!!!
Itu yang perlu rekan-rekan di AKKBB jelaskan kepada khalayak ramai…!!!
Contoh kasus terkini adalah mengenai Ahmadiyah, kami umat ISLAM tidak akan memprotesnya kalo mereka dari ahmadiyah tidak merusak ajaran Al-Quran dan tidak menamakan diri sebagai bagian dari umat Islam.
Silakan Ahmadiyah mendeklarasikan sebagai suatu kepercayaan / agama tersendiri DILUAR ISLAM
InsyaAllah kami dari umat Islam tidak akan mengganggu gugat keberadaan Ahmadiyah.
Dan bagi saudara-saudaraku umat Islam yang berada dalam AKKBB jangan pernah mengatasnamakan diri sebagai perwakilan dari umat Islam. Atasnamakan diri anda dari perwakilan lembaga / LSM tempat anda bernaung. Karena seperti yang umumnya sudah kita ketahui bahwa sumber dana LSM yang mengatasnamakan HAM dan kebebasan beragama adalah dari negara-negara barat yang notabene anti dengan perkembangan umat Islam dan selalu mencari cara untuk menghancurkan kekuatan Islam.
Juni 1, 2008 pada 11:33 am
qudsi
Subhanallah dengan yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini..
banyak elemen-elemen masyarakat yang menganggap dirinya paling benar dengan mengatasnamakan Tuhan dan berbuat kekerasan lagi-lagi dengan mengatasnamakan Tuhan.
sesungguhnya hanya Allah lah yang pantas menghakimi makhluknya. mana yang lebih buruk daripada itu? padahal Tuhan telah berjanji bahwa akan menghakimi YANG MEMANG TIDAK SESUAI dengan-Nya.
mata pun tertutup oleh ketidaktahuan dan fitnah yang disebarkan, hati terkuasai oleh nafsu membenci. bukankah Rasulullah SAW sendiri telah menerangkan bahwa Islam akan terbagi dalam beberapa golongan?
beristigfarlah dalam hati. ucapkan bismilah dan selalu berdoa meminta petunjuk.
yang dilakukan AKKBB mudah-mudahan selalu dalam lingkaran yang baik dan dilindungi Allah SWT..
Juni 1, 2008 pada 11:57 am
Umi
aduh cape deh, hari gini masih ngomongin kebebasan agama, emang akkbb belum lihat kalo kebebasan beragama alias HAM hanya alat berat untuk menghancurkan umat Islam.Emang situ gak lihat gimana umat Islam di Irak, Afganistan, Palestin n umat Islam di belahan negara dunia lainnya Justru Haknya di injak-injak oleh paman Sam atas nama Demokrasi. kalo situ membela HAM harusnya juga bela saudara kita di Irak,palestin, n negara-negara lainnya juga dong.jadi cepetan taubat deh, mumpung belum tutup usia.
Juni 1, 2008 pada 3:10 pm
Omo
Satu lagi yang nyasar, neng, mbak, Umi. Kalo situ ngerti sejarah dan suka baca buku, orang Palestina itu bukan hanya Islam neng. Tahu gak DR Hanan Asrawi, anggota dlegasi negosiasi Palestina, seorang perempuan beragama Kristen ? G yakin lo gak tahu karena selama ini lo sudah dicekoki informasi ngaco para fundamentalis goblok. Baca, baca, BACA ! sebelum njeplak gak karuan.
Juni 1, 2008 pada 11:35 pm
dianvi
Silakan Ahmadiyah mendeklarasikan sebagai suatu kepercayaan / agama tersendiri DILUAR ISLAM
InsyaAllah kami dari umat Islam tidak akan mengganggu gugat keberadaan Ahmadiyah.
Juni 2, 2008 pada 2:34 am
aye
Indonesia itu bhinneka bukan hanya Islam. Saya sedih melihat seakan-akan negara ini milik segolongan orang saja. Bahkan hanya sebagian dari umat muslim. Hanya Allah yang berhak menentukan keimanan seseorang.
Juni 3, 2008 pada 3:08 am
atmo glendem
lha kuwi lho….
lha jelas jelas wong kresten , hindu lan liya liyane kok melu melu umuk ngomong babagan ahmadiyah…
arepe golek opo to kang? arepe golek pangan?
AKBB iki yen arepe golek pangan yo golek pangan, nanging ojo ngrusuhi liyan…
gak popo golek pangan seko bantuan, tapi yo ojok ngono…
ngisin isine…
Juni 3, 2008 pada 3:51 am
hamba Allah
Aduh, Indonesia…
Gimana mau bebas beragama? Yang menentukan agama boleh atau tidak, itu orang lain? Lho bukankah yang menentukan itu Tuhan sendiri, dan bukan manusia apalagi pemerintah atau sebuah lembaga (yang notabene sudah berkeyakinan sendiri)? Sejak kapan manusia atau majelis lebih benar daripada Tuhannya?
Biarlah TUHAN yang menentukan. Jangan main hakim sendiri karena merasa sudah paling benar. Let God decide.
Kalau antar keyakinan bentrokan terus, siap-siap saja Tuhan turunkan bencana lagi. Tsunamilah, gempa bumilah, Krisis Energilah, Krisis Moneterlah. Kok nggak belajar-belajar sih?
It’s about GOD, not religion! Fokus ke Tuhan, jangan lihat perbedaan agama. Kalau agama yang kita anuti itu yang benar, PASTI Tuhan kasih tanda-tandanya. Kalau tidak, ya siap-siap saja kena AZAB lagi.
Lihatlah diri kita di cermin! Mawas dirilah. Jangan lihat orang lain. Begitu lemahkah iman kita sendiri sehingga mudah terganggu perbedaan yang ada DI ORANG LAIN? Toh itu terjadi di dalam diri orang lain, bukan kita? Biarin aja dia mau masuk neraka atau surga, kan itu tanggung jawab masing-masing pribadi, dan bukan kolektif? Apakah FPI bisa menjamin kita masuk surga? Buktinya apa? Ngapain ikut-ikut hasutan FPI?
Begitu mudahkah kita terganggu kalau ada suara keras dari tetangga? Apa kata agama lain bila kita sedang mengumandangkan azan lewat corong suara, di jam-jam orang beragama lain sedang tidur? Mereka kok lebih toleran ya? Mungkin di agama mereka diajarkan tingkat toleransi yang lebih tinggi daripada agama kita?
Saya akan doakan agar Tuhan segera kasih jawaban atas masalah kebebasan beragama di Indonesia ini. Akan ada yang diselamatkan, dan akan ada yang kena hukumanNya. Anda sudah siap menghadapi apapun konsekuensinya?
Amin…
Juni 3, 2008 pada 11:56 am
Rofi
Pertama, saya mendukung AAKKB!
semoga keberadaan AAKB selalu di ridloi-Nya dan diberikan kemudahan untuk “mendakwahkan” panji-panji kebenaran, keadilan, dan kedamaian. Karena sesungguhnya itulah nilai-nilai universal yang ada dalam al-Qur’an.
Sepanjang yang saya pelajari selama 11 tahun di pesantren, tidak ada satu dalil pun dalam Islam yang menganjurkan umatnya untuk menghakimi kelompok-kelompok yang berbeda. Biarkan mereka hidup secara damai berdampingan dengan kita. Termasuk dalam hal ini Ahmadiyah. Apa salah mereka sehingga harus di vonis sesat? yang berhak menghakimi dan men-Justifikasi apakah Ahmadiyah benar atau salah hanyalah Dia Yang Maha Kuasa. Kita manusia jangan sok tau. jangan-jangan, mereka yang selama ini mendengungkan ingin segera dikeluarkan SKB tentang sesatnya ahmadiyah justru mereka sendiri yang sesat?
Mereka tidak membuat kerusuhan, mereka tidak korupsi, mereka tidak melakukan sweeping secara sembarangan, mereka tidak melakukan perusakan, mereka tidak menggelapkan minyak, mereka tidak merampok, mereka tidak melakukan illegal loging, mereka tidak membunuh, mereka tidak maksiyat, mereka tidak melakukan apapun yang merugikan orang banyak.
Coba pikir dengan hati nurani, mereka hanya memiliki pemahaman yang berbeda pada umumnya. itu saja. dan perbedaan itu sah-sah saja. tidak ada masalah dengan perbedaan, dewasalah wahai saudara-saudara.
kalau tidak terima, coba balik posisi Anda yang tidak setuju dengan Ahmadiyah, coba bayangkan anda memiliki pemahaman yang berbeda dengan pemahaman pada umumnya, tapi anda tidak melakukan tindakan kriminalitas, bayangkan bagaimana jika anda tiba-tiba diserang dan hak anda untuk hidup dikoyak sebagian orang? coba bayangkan.
kalau SKB sesatnya Ahmadiyah benar-benar dikeluarkan, kita kaum toleran bisa saja menuntut balik Islam “garis keras” seperti FPI, JI, dlsb. Mereka semualah yang justru melecehkan Islam, menggunakan Islam sebagai kedok, sebagai topeng. Islam dijadikan tameng melakukan kekerasan. apa itu bukan pelecehan. itulah pelecehan yang sesungguhnya.
pikirlah dengan hati nurani saudara-saudara.
karena sesungguhnya, atas nama apapun, Kekerasan Tidak Bisa Dibenarkan!
Juni 3, 2008 pada 1:18 pm
abahoryza
ngomong apaan sih?
akbb, fpi, terus apa lagih?
kalian semuah (akbb, fpi dan lembaga sejenis) hanya ingin pro kontra sepanjang jaman menjadi sebuah agenda kehidupan masyarakat kita?
salam kenal, blogger cinta damai tanpa bawa2 agama, tanpa jualan kebebasan beragama dll.
Juni 3, 2008 pada 1:36 pm
putra
he he he.. marah-marah.. biarin aja siih. gitu aja koq repot! mbo ya disyukuri perbedaan itu.. lihat kebesaranNya pada perbedaan. Allah itu kan ngga segoblok manusia. ingat sekali lagi Allah itu ngga seGoblok anda, saya, dan semua manusia.. Dia menciptakan segala sesuatu dengan KesempurnaanNya. tidak ada yang salah dalam Rencana dan CiptaanNya.termasuk PERBEDAAN. warna kulit berbeda, bahasa berbeda, agama berbeda, pulau berbeda, negara berbeda, planet berbeda, galaksi berbeda, dll berbeda. Pakai kacamata cinta doong… hingga yang tersisa hanya syukur, syukur dan syukuuuur.. love you all..
Juni 3, 2008 pada 1:37 pm
putra
sampai mati saya tidak akan membenci anda semua… hehehe
Juni 3, 2008 pada 2:07 pm
YoHang 07
Yah liberal semua…
Berapa banyak nabi lagi yang akan muncul?
Juni 3, 2008 pada 3:48 pm
Abu Musallam
Emang orang2 bodoh banget ya.. Gak bisa ngebedain mana kebebasan beragama mana kebebasan merusak agama. Dimana-mana ngerusak agama itu gak bebas oon…
Udah ditawarin jadi agama sendiri kagak mau, itu namanya pengen ngerusak agama, ya harus diberangus…
Juni 4, 2008 pada 1:16 am
DDo
saYa Dukung 100%.,,.UNTUK Stabilitas NKRI tercinta,.
kiTa merdeka bukan Untuk saling MngHancurkan dan memBenci,.,
KIta merdeKa untuk Menbangun,Menjaga,Memelihara dan SALING MENGERTI sebagai sesama anak bangsa,..
Juni 4, 2008 pada 2:52 am
IYAN
Saya setuju dengan akh arif.
akkbb harus mengerti makna kebebasan terlebih makna kebebasan beragama. bebas dengan melecehkan agama, itu bukan kebebasan. Sekarang kalau memang teman2 akkbb dapat berfikir dengan jernih dan bersikap bijak, apakah bisa dikatakan logis, membela kelompok yang telah melecehkan agama.
Juni 4, 2008 pada 2:56 am
iwan
cuma mau tanya aja untuk konfirmasi dan klarifikasi. Apa benar AKKBB itu membela Ahmadiyah?
Juni 4, 2008 pada 5:31 am
okky kade
Negara ini dibangun oleh beberapa komponen pejuang dengan berbagai kepentingan dan toleransi demi terciptanya Indonesia bersatu, Pancasila dan UUD 45.
Siapapun yang melanggar dan menentang serta menghianati konstitusi ini wajib ditumpas dari negri ini…
setuju!!! sikat terus bleh……!
Juni 5, 2008 pada 4:46 am
iwan-udi
Ajakan ini saya sampaikan untuk saudaraku di AKKBB, dan seluruh orang Indonesia.
UNTUK DAMAI INDONESIA :
1. Kita Orang Indonesia berada di Tanah air Indonesia.
2. Kita orang Indonesia berlaku sesuai budaya Indonesia.
3. Kita orang Indonesia berada didalam hukum Indonesia.
4. Kita orang Indonesia memahami Indonesia.
5. Kita orang Indonesia mengerti untuk damai Indonesia.
Juni 5, 2008 pada 6:24 am
adi
kalo bener2 bebas, yaaa… ga ada lah yang musi ngomung anjing atau makhluk2 penghuni kebun binatang apapun.
saya berusaha mengerti perasaan anda yang sangat kesal dan marah dengan perilaku organisasi apapun itu.
Tapi janganlah hendaknya anda jadi terbawa emosi seperti itu.
ini forum umum… kalau anda berkata seperti itu di depan umum, apapula yang anda katakan di belakang sana?
Apa anda tidak malu dengan perilaku anda?
katanya: “bangkit itu marah, marah karena martabat bangsa dilecehkan…”
apakah tindakan anda dengan berkata-kata demikian tidak lain dan tidak bukan adalah melecehkan bangsa ini?
apakah bangsa ini berbudaya demikian?
lantas siapa yang bisa marah kalau subyek “bangkit”nya saja harus dimarahi.
kalau mau bangkit, mau bebas, awali dari diri sendiri.
kalau anda ndak suka dengan apa yang anda sebut ahmadiyah, ungkapkan saja… tapi tidak dengan cara anrakis dan tidak memaksa kehendak anda.
terprorvokasi?
itu urusan anda…
kalau anda merasa benar, untuk apa terprovokasi?
jangan-jangan ada yang salah…
sebelum memaksa orang lain berubah, ubahlah sikap anda yang menodai martabat bangsa ini…
bagi semua orang yang memasang kata-kata kasar sajalah saya menyampaikan ini. Bagi yang lain, yo terserah anda.
saya hanya malu… malu karena bangsa ini kayaknya kebon binatang di mulut itu hal biasa…
yang harus tobat itu siapa?
Kalau ndak suka pancasila ya ndak usah ngaku bangsa indonesia lah…
Juni 5, 2008 pada 6:28 am
adi
AKKBB… sabar ya…
ga usah terprovokasi…
yang terprovokasi itu cuma provokator.
berhubung negeri ini negara hukum, yaaa… biarkan hukum yang jadi penengah semua ini. ga usah ikut-ikutan mukul-mukul orang.
harga diri itu ga semurah mulut bukan?
jangan nodai ‘kebebasan’ yang anda junjung hanya karena ‘kebablasan’ orang-orang yang menyatakan anda ‘kebablasan’.
Juni 5, 2008 pada 8:51 am
mubaraq
AAKKB ini Didirikan oleh orang Islam sendiri Atau non Muslim?
HAM yg diakui dalam islam adalah HAM yg masih dlm kontek alquran dan Sunnah Nabi….Nah pemahaman HAM diluar keduanya maka Islam menolaknya.
Begitu Jg dlm Hal Kebebasan berkeyakinan…Kebebasan berkenyakinan yg kalian suarakan apakah kebesan berkeyakinan dalam kontek alquran dan SUnnah ataukah bukan?
kl masih dibawah Alquran dan SUnnah maka saya sepenuhnya mendukung,Tp kl Kebebasan berkeyakinan yg kalian usung adalah diluar kontek alquran dan sunnah..hemm…Allah yahdikum.
Juni 5, 2008 pada 2:59 pm
Gugus
Wah nggak diduga saya kok bisa sampe sini,
Yang jelas saya membela kebebasan,
Kebebasan mendapat informasi yang transparan, kebebasan mendapatakan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas, kebebasan dari perut lapar.
Sepertinya AKKBB proyek beasarnya bukan kebebasan yang saya sebutkan di atas. ya sudah saya numpang lewat blognya saja untuk backlink.
Yang jelas kita harus paham bedanya toleransi beraga dan paham pluralisme agama.
Juni 5, 2008 pada 4:35 pm
nur asadullah
Agama dan Keyakinan adalah seperti pohon2 yang berdiri berdampingan. Setiap pohon yang tumbuh ada yang memiliki banyak cabang dan ranting. Tapi sampai ke ujung daunnya memiliki esensi yang sama. Hanya benalu-lah yang menempel ke sebatang pohon tapi memiliki esensi yang berbeda. Menghisap dan merusak pohon tersebut bahkan menjalar ke pohon yang lain. Wahai para benalu, jadilah pohon seperti kami. Marilah kita berdiri berdampingan dalam damai. Kami akan akui anda dalam perbedaan.
Juni 6, 2008 pada 8:43 am
masdith
Saya yakin niat temen2 AKKBB baik…tapi kalo niat tanpa didasari ilmu itu namabya buta.
Sebaiknya untuk masalah seperti ini kalo benar2 temen2 AKKBB gak mengerti masalah agama apalagi Agama ISLAM yang saya anut yang saya yakini kebenarannya. MEndingan jangan melontarkan opini yang nantinya akan merugikan temen2 AKKBB.
Solusinya adalah temen2 belajar apa itu ISLAM… tentunya dengan orang2 yang hanif/ baik dan benar2 dipercaya keislamannya…
OK..Thx
Electrical Section for Humanity
Juni 6, 2008 pada 8:51 pm
Sijo
untuk admin
saya bangga dengan AKKBB, bagaimana cara untuk bergabung? Adakah di Yogyakarta?
Saya menyesalkan beberapa komentar diatas yang menjelek-jelekan agama lain. Mungkin anda melihat berbagai macam pemberitaan terntang Irak, Palestina dan Afaganistan dari sisi yang sangat sempit. KEMAPA AGAMA HARUS DIBAWA-BAWA PADA PERSOALAN TERSEBUT? Biarlah seluruh agama hidup rukun dalam kehidupan ini. Janganlah ada yang menjelek-jelekan agama lainnya, agama itu KEPERCAYAAN dan setiap orang berhak dan bebas memilihnya
Juni 8, 2008 pada 6:49 pm
Aqu
Abdul rahim,,dalam alquran diajarkan utk bertutur santun dan baik.atau jgn2,kamu punya alquran lain yg ngizinin kamu utk pake kata2 kotor kayak gtu??
Coba baca sejarah islam pasca wafat rasul.dalam islam muncul aliran syiah,khawarij,mu’tazilah,dan sebagainya.antara satu aliran dgn aliran yg lain saling mengkafirkan,,lantas dpt apa??dpt konflik brkepanjangan,kayak syiah dan sunni skrg.
Di indonesia jg byk aliran islam yg muncul akibat akulturasi budaya,ada islam kejawen alias ktp islam tapi msi kasi sesajen2 ke gunung,(bisa dikategorikan musyrik ga?),dan lain2,,knp yg diributkan hanya ahmadiyah?apa krna ahmadiyah trmasuk aliran islam termapan di dunia?ahmadiyah punya kontribusi signifikan pnyebaran islam di eropa dengan siaran tv islam mereka yg tersebar di 200negara di dunia.konsep agama mereka jg tauhid,,mereka menyembah Allah yg sama dgn Allah yg qta sembah,mereka bahkan mewajibkan anak2 mereka menghafal al-baqarah minimal 17 ayat prtama krna di ayat2 trsebut ada bibit2 ajaran kebaikan dalam islam,,
knapa g coba dialog?solusi tdk bsa hanya dilontarkan oleh satu pihak,tapi harus dikompromikan,dimusyawarahkan.bukankah islam itu demikian?
Juni 9, 2008 pada 8:47 am
NN
Tapi Indonesia memang kaya akan Bhineka Tunggal Ika
Juni 9, 2008 pada 9:00 am
yoi
Idem……
Juni 11, 2008 pada 2:41 am
k. umara
Bantuan asing itu isu usang. Lagi pula, kalo organisasi macam AKKBB memperoleh bantuan, kenapa? Memangnya FPI, HTI, KLI dll itu tidak memperoleh kucuran pulus dari “patriak-patriak minyak” TimTeng abdi wahabisme; juga dari para jedral Orba. Begitu juga dengan imperialisme, bukan saja dilakukan Barat, tapi juga TimTeng. Bukankah para Habib itu “tanda” imperialisme budaya? – sekerang mereka nongol memanfaatkan demokrasi dengan berkoar-koar paling gencar. Ujung-ujungnya: memberangus demokrasi
Juni 11, 2008 pada 3:04 am
Sumanto
Andainya saja tak ada Euro 2008, berkemungkinan publik sampai jenuh akibat terus bertubi-tubi disuguhi media massa (terutama televisi) ragam pemberitaan kasus Monas di mana pasukan FPI mencederai AKBB. Bila dicermati, peristiwa itu sendiri tidaklah terlalu luar biasa, tak seluar biasa kabar yang dikonsumsikan media pada khalayak.
Sama sekali tak ada korban tewas, tidak ada mobil dan motor yang dibakar hangus, tidak ada pertokoan yang dijarah, tidak ada baku hantam dengan petugas dan malah tidak ada polisi yang sampai menyemprotkan water canon. Lalu, bila dicermati lebih jeli, insiden Monas 1 Juli 2008 justru menggumpalkan tandatanya besar: Sedemikian sabarnyakah massa AKBB dipukuli orang-orang FPI? Kok, mereka sedikitpun tidak memberikan counter perlawanan? Padahal, semut saja kalau diganggu masih melancarkan serangan balasan?
Dengan jelas, televisi yang me-review kejadian 1 Juli itu seolah-olah minta pertimbangan logika masyarakat. Dengan massa yang tak kalah banyak, kenapa AKBB sepertinya pasrah belaka dan tak mau berkelahi membela diri? Pertanyaan itu akan selalu mengganggu pada setiap penayangan ulang insiden Monas!.
Persoalan penegakan hukum, biarlah menjadi ranah kalangan penegak hukum. Sebab, sebagaimana ditegaskan Presiden SBY berkali-kali, negara Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi asas hukum. Namun, penayangan kasus Monas berkali-kali melalui stasiun televisi mulai menggugah simpati publik. Malah, bukan hanya simpati publik muslim belaka! Dikatakan begitu, karena kentara sekali dalam visual yang ditampilkan ternyata massa FPI tampak amat sederhana. Tak ada seragam jaket mewah, rompi luar negeri, koppel riem dengan kuningan berkilat serta sepatu lars yang mahal. Beberapa di antara mereka justeru tak bersepatu. Sedangkan yang lainnya cuma berjubah bahan kain murahan, syal dan sorban kelas Tanah Abang, ikat pinggang Haji berwarna hijau yang harganya tak lebih Rp10 ribu perbuah. Mengindikasikan, massa FPI ‘’hanya’’ masyarakat miskin dan pinggiran!
Fakta tersebut menjadi lebih akurat sewaktu televisi menayangkan penangkapan orang-orang dengan mengerahkan sebatalyon polisi bersenjata lengkap. Ternyata, massa FPI bukanlah orang bersenjata. Sebagian mereka bahkan hanya berkain sarung. Kemudian, umumnya mereka tinggal di rumah non mewah! Media memberitakan tokoh FPI Habib Rizieq justeru bersama isteri dan tujuh anaknya cuma menempati rumah seukuran 5 x 10 meter! Masyaallah! Fakta ini melayangkan sekilas ingatan sekian tahun silam, betapa kagum dan tercengangnya wartawan Herald Tribune dan New York Times saat menjenguk ke rumah Imam Besar Khomeini, tokoh Muslim yang amat disegani Dunia Barat. Sang Imam cuma tinggal di rumah yang lebih mirip gubuk! Maka, selain gemas, kecewa dan prihatin dijebloskannya Habib Rizieq ke balik jeruji besi oleh polisi, umat juga diam-diam terharu dan menitikkan airmata. Sang Habib ditahan semata-mata karena dia memperjuangkan pembubaran Ahmadiyah. Bukan lantaran korupsi atau narkotika! Sementara tak sedikit selebriti maupun petinggi di negeri ini dijebloskan masuk sel gara-gara korupsi atau narkoba!
Tak usah dulu umat muslim, komunitas Melayu saja pasti bakal tersinggung jika ada kelompok yang melecehkan dan memutarbalikkan fakta kemelayuan, serta merendahkan citra, marwah, harkat derajat Melayu yang terhormat. Masyarakat Melayu bisa hidup harmonis berdampingan dengan etnis Bugis, Batak, Jawa, Sunda dan sebagainya itu dikarenakan berkembang sikap saling menjaga batas firdaus. Seperti itu pula umat muslim. Mereka bisa hidup rukun bersama umat Kristen, Budhis, Hindu, Protestan, Advent, Konghucu lantaran masing-masing pihak tidak menjentik hal-hal prinsip yang mengakomodasikan sensifitas tinggi.
Islam adalah Agama toleran! Tapi, toleransi Islam ada koridornya. Bila sampai mengintimidasi Aqidah, mengaku-ngaku sebagai Rasul, menghina AlQuranulkarim dan Nabi Muhammad SAW serta menginfus pikiran-pikiran sesat, tentu takkan ada maaf untuk itu. Barangkali cukuplah kasus Monitor Arswendo Atmowiloto menjadi pengalaman pahit yang tercatat sebagai tinta merah dalam sejarah keislaman Indonesia!
Terkait itu pula, logis kita berikan salut terhadap ormas-ormas berbendera Islam di Riau yang berkata bulat mufakat mendeklarasikan penolakan mereka terhadap Ahmadiyah sekaligus mendukung FPI. Meski pernyataan tersebut dicetuskan pada 7 Juni 2008, atau beberapa ratus jam sesudah insiden Monas terjadi, tapi lebih baik terlambat daripada tak peduli samasekali. Di Jakarta, tak cukup dengan kata-kata, sejumlah ribuan massa Islam dari berbagai ormas dan komponen melancarkan demo ke Istana Negara. Walau dicap anarkis, akan tetapi lebih tersirat dari itu keberadaan FPI yang mencerminkan kesederhanaan status-sosial kehidupan anggota mereka, dan Sang Ketuanya Habib Rizieq ‘’cuma’’ menempati rumah seukuran 5 x 10 meter persegi sangat menyedot simpati publik. Tak hanya publik muslim, tentu.
Kalangan psikolog berasumsi, menggugah simpati umat sekarang ini tak lagi relevan dilakukan dengan pamer kemewahan, melainkan dengan kepedulian serta fakta yang bisa ditatap transparan. Nilai-nilai memang telah bergeser pelan. Bukan lagi tokoh bergelimang kegemerlapan yang disanjung. Melainkan tokoh yang berkehidupan sederhana! Sebagai ilustrasi, ketika TVRI, Jumat (30/5) menayangkan wawancara Hj Neno Warisman dengan H Syamsul Arifin (dia bersama Gatot Pujonugroho menang telak Pilkada Gubernur Sumut baru-baru ini) terdapat kalimat yang bisa membuat orang terperanjat. Berkata Syamsul : ‘’Begitu saya menang Pilkada Gubsu, protokol mengajukan pada saya fasilitas kenderaan dinas seharga Rp1,6 Milyar. Saya tanya istri. Langsung istri bilang untuk apa? Kan, kita sudah punya Kijang, pakai saja itu. Rakyat masih banyak yang miskin, berikan pada mereka!
Juni 11, 2008 pada 3:20 am
Cecep Gorbacep
“The west won the world not by the superiority of its ideas, values or religion. But rather by its superiority in applying organized violence. Westerners often forget this fact, but non westerners never do.” (Prof. Samuel P Huntington).
Padahal Indonesia sudah termasuk negara demokratis. Demikianlah pengakuan masyarakat dunia. Pasalnya, Indonesia telah berhasil mengembangkan dan mempraktikkan demokrasi yang ditandai dengan suksesnya penyelenggaraan Pemilu 2004 yang mengantarkan SBY—dari parpol yang baru terbentuk—menjadi presiden. Demikian tegas Ketua Komite Konferensi Dunia IAPC ke-40, Pri Sulisto, di Nusa Dua, Bali (Republika, 12/11/07). Indonesia akhirnya meraih “Medali Demokrasi”. Medali tersebut diberikan oleh IAPC (Asosiasi Internasional Konsultan Politik)—sebuah organisasi profesi yang memperjuangkan demokrasi di seluruh dunia—karena Indonesia merupakan negara pertama berpenduduk mayoritas Muslim yang dinilai melakukan proses demokrasi dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Co Chairman Komite Konferensi IAPC, ke-40, Robert Murdoch, menambahkan, selain sebagai penghargaan, dipilihnya Indonesia menjadi tempat pertemuan juga merupakan perwujudan perjuangan IAPC untuk mempromosikan demokrasi di seluruh dunia. (web.bisnis.com, 13/11/07). Namun Indonesia tidak kunjung sejahtera dengan gegap gempita demokrasi.
Pertanyaannya, apakah demokrasi berkolerasi dengan kesejahteraan masyarakat? Apakah dengan demokrasi seluruh kebutuhan masyarakat—seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan—tercukupi dengan baik? Faktanya, di Indonesia banyak rakyat miskin tanpa rumah dengan malnutrisi, tidak mempunyai harapan hidup layak karena tidak adanya jaminan kesehatan, biaya pengobatan yang melabung tinggi, rasa aman yang mahal dan yang lainnya.
Ternyata Amerika dan negera-negara Barat lain maju perekonomiannya bukan karena demokrasi. Sebagaimana kata Huntington diatas, “ Barat unggul di dunia sekarang ini bukan karena kehebatan ide, nilai-nilai atau agamanya. Barat maju, sejahtera dan unggul lebih karena kemampuannya mengorganisasi kekacauan (imperialisme)”. Lihatlah kenyataan ini, berapa ton emas yang dikeruk Freeport, dibawa ke Amereka dan telah membuat banyak rakyat Amerika sejahtera karenanya. Berapa milyar barel minyak dari Aceh, Riau, Cepu dan Kaltim yang disedot perusahaan-perusahaan Ameria dan telah membuat mereka kaya. Dan seterusnya.
Kalaupun Mereka menegakkan demokrasi, apalagi dengan biaya yang sangat mahal sebagaimana Pilpres di AS, sementara tidak ada imoperialisme yang mereka lakukan. Dipastikan Barat tidak semaju Sekarang. contoh lain adalah Belanda. Belanda bisa membangun negaranya seperti sekarang apakah karena demokrasi? Kalau kita melihat sejarah, Belanda bisa seperti sekarang bukan karena demokrasi tapi karena 350 tahun menjajah Indonesia.
Demikian juga Rusia. Rusia atau Uni Soviet, pada masa kejayaan komunisme meraih kemajuan di bidang sains dan teknologi. Mereka mampu menciptakan teknologi canggih hingga teknologi ke ruang angkasa. Padahal komunisme sering diklaim memberangus demokrasi dan kebebasan.
Jadi, persoalannya bukanlah masalah kebebasan atau tidak, tetapi apakah masyarakat itu memiliki kebiasan berfikir produktif atau tidak. Berfikir produktif sendiri merupakan hasil dari kebangkitan berfikir yang didasarkan pada ideologi tertentu. Sebab karakter dasar dari ideologi adalah senantiasa ingin memecahkan persoalan manusia secara menyeluruh, sekaligus mempertahankan dan menyebarkan ideologinya.
Salah Paham Tentang Demokrasi
Banyak kalangan salah paham terhadap demokrasi. Banyak orang hanya memahami demokrasi sebagai perwujudan partisipasi rakyat dalam Pemilu yang transparan dan akuntabel, ditambah dengan aktivitas musyawarah para wakil rakyat dalam mengambil keputusan; tak peduli apakah keputusan hasil musyawarah untuk dijadikan aturan itu bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran ataukah tidak. Dengan demikian, orang/lembaga/negara dikatakan demokratis jika mendengarkan pendapat orang lain melalui musyawarah sebelum mengambil keputusan. Inilah sebenarnya yang disebut dengan ‘demokrasi prosedural.’
Walhasil, mudah dimengerti jika Pemilu yang demokratis tidak bisa dijadikan ukuran suksesnya sebuah negara. Apalagi jika dikaitkan dengan persoalan kemakmuran warga negaranya. Padahal, katanya, dengan demokrasi diharapkan negara bisa mencapai kemakmuran. Kementerian Perumahan Rakyat mencatat, pada awal Oktober 2007 terdapat sekitar 9,5 juta keluarga di Indonesia yang belum mempunyai rumah. (Jawa Pos, 30/10/07). Akhir-akhir ini pembangunan ekonomi di Indonesia juga telah menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan. Ekonomi saat ini memunculkan jurang pemisah yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin. Jurang pemisah ini jelas akan menimbulkan serentetan akibat buruk bagi peri kehidupan di masyarakat. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui bahwa kesenjangan sosial yang terlalu besar pada bangsa ini bisa memicu siklus kekerasan yang selalu terjadi setiap 5 tahun terakhir. (Antara News, 23/10/07).
Hakikat Sistem Demokrasi
Sistem demokrasi di negara manapun selalu mencerminkan paling tidak dua hal: (1) Kedaulatan rakyat; (2) Jaminan atas kebebasan umum.
Kedaulatan rakyat.
Demokrasi identik dengan jargon “dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat”; dengan kata lain, kedaulatan ada di tangan rakyat. Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Benarkah secara faktual dalam demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat?
Anggapan yang menyatakan kedaulatan ada di tangan rakyat jelas keliru. Faktanya, di Indonesia sendiri, yang berdaulat bukanlah rakyat, tetapi para elit wakil rakyat, termasuk elit penguasa dan pengusaha. Bahkan kebijakan dan keputusan Pemerintah sering dipengaruhi oleh kepentingan para pemilik modal, baik lokal maupaun asing. Tidak aneh jika banyak UU atau keputusan yang merupakan produk lembaga wakil rakyat (DPR) maupun Presiden—yang katanya perpanjangan dari kepentingan rakyat karena dipilih langsung oleh rakyat—sering bertabrakan dengan kemauan rakyat. Betapa sering kebijakan Pemerintah yang diamini para wakil rakyat justru didemo oleh rakyat sendiri.
Pengkritik demokrasi seperti Gatano Mosca, Cilfrede Pareto dan Robert Michels cenderung melihat demokrasi sebagai topeng ideologis yang melindungi tirani minoritas atas mayoritas. Dalam praktiknya yang berkuasa adalah sekelompok kecil orang atas kelompok besar. Khusus kasus di Indonesia, kelompok mayoritas adalah Muslim, tetapi kenyataanya yang senantiasa diuntungkan adalah kelompok non-Muslim karena kekuasaan atau modal dimiliki oleh kelompok minoritas non-Muslim. Hal senada juga dinyatakan oleh Benjamin Constan. Ia menyatakan bahwa demokrasi membawa masyarakat menuju jalan yang menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.
Jelas, ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang hanya mengakui kedaulatan hukum syariah (Hukum Allah). Dalam demokrasi, rakyat (manusia) diberi kewenangan penuh untuk membuat hukum, termasuk membuat hukum yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah (syariah). Inilah yang terjadi di negara-negara yang menerapkan demokrasi, termasuk Indonesia. Padahal dalam Islam, hanya Allah yang berhak menetapkan hukum. Allah Swt. berfirman:
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS an-An‘am [6]: 57).
Jaminan atas kebebasan umum.
Pertama: kebebasan beragama. Dalam demokrasi, seseorang berhak meyakini suatu agama/keyakinan yang dikehendakinya tanpa tekanan atau paksaan. Dia berhak pula meninggalkan agama dan keyakinannya, lalu berpindah pada agama atau keyakinan baru. Seseorang juga berhak untuk tidak beragama atau membuat ‘agama baru’.
Jelas ini bertentangan dengan Islam. Memang, dalam Islam tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Ini diserahkan sepenuhnya kepada individu masing-masing (lihat: QS). Namun, tatkala seseorang telah memeluk agama Islam, dia berkewajiban untuk tunduk dan patuh pada syariah atau aturan-aturan Allah, termasuk di dalamnya keharaman untuk keluar dari agama Islam atau murtad. Rasulullah saw. bersabda:
Siapa saja yang menukar agamanya (murtad) maka bunuhlah. (HR).
Islam sangat menjaga kesucian agama. Tidak bisa dengan seenaknya keluar masuk agama. Islam melarang umatnya untuk ‘membongkar-pasang’ keyakinan dalam Islam, dengan kata lain, melarang umatnya untuk membuat ‘agama baru’.
Kedua: kebebasan berpendapat. Dalam demokrasi, setiap individu berhak mengembangkan pendapat atau ide apapun dan bagaimanapun bentuknya tanpa tolok ukur halal-haram. Tidak aneh, dalam demokrasi, kita mendapati banyak pendapat yang dipakai untuk ‘menghujat’ Islam; seperti bahwa Islam adalah ajaran Muhammad (Mohammadanisme), bukan syariah Allah; al-Quran adalah produk budaya, tidak sakral, dll. Inilah pandangan-pandangan liberal. Jelas ini bertentangan dengan Islam.
Ketiga: kebebasan kepemilikan. Intinya, seseorang boleh memiliki harta (modal) sekaligus mengembangkannya dengan sarana dan cara apapun. Di Indonesia, pihak asing bahkan diberikan kebebasan untuk menguasai sumberdaya alam milik rakyat, antara lain melalui UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, dll.
Keempat: kebebasan berperilaku. Intinya, setiap orang bebas untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan seperti: membuka aurat di tempat umum, berpacaran, berzina, menyebarluaskan pornografi, melakukan pornoaksi, melakukan praktik homoseksual dan lesbianisme, dll.
Paradoks Demokrasi
Demokrasi secara ideal dirumuskan oleh Abraham Lincoln sebagai sebuah sistem pemerintahan yang didasarkan atas prinsip kedaulatan dari, oleh dan untuk rakyat. Melalui sistem pemilihan tertentu, transformasi kedaulatan rakyat tersebut diwujudkan dalam proses pemberian suara untuk meraih jabatan politik tertentu. Dalam kekuasaannya, aspirasi masyarakat akan diperjuangkan melalui mekanisme yang telah disepakati.
Tetapi apakah proses tersebut bisa berjalan secara linear sebagaimana cita-cita demokrasi; dari, oleh dan untuk rakyat? Dalam pelaksanaannya, sering wujud demokrasi tidak seperti itu. Proses tersebut sering terpotong hanya dari rakyat. Sementara prinsip oleh dan untuk rakyat sering terabaikan karena dimanipulasi oleh penguasa. Kekuasaan yang diperolehnya justru bukan untuk mensejahterakan masyarakat melainkan sebaliknya dijadikan jalan untuk menumpuk kekayaan pribadinya. Jadilah jargon itu berubah menjadi dari rakyat, oleh penguasa, untuk segelintir pengusaha.
Realitas demokrasi bisa kita lihat dari beberapa hal berikut :
Pemegang kedaulatan sebenarnya adalah para pemilik modal (ra’simaliyyun) bukan rakyat
Ketergantungan parpol pada jalur ekonomi sebenarnya merupakan suatu hal klasik dan wajar. Sebab, partai-partai memerlukan dana untuk berbagai macam kegiatannya. Namun, dalam demokrasi, nampaknya kerjasama aktor-aktor dan instrumen politik dengan aktor-aktor dan instrumen ekonomi telah membentuk suatu lingkaran syetan.
Pada saat akan terjadi pemilihan umum, para konglomerat berupaya memasang perlindungan bagi bisnisnya agar tidak rontok di tengah jalan dengan mengucurkan dana kepada partai-partai yang diprediksi akan meraih suara cukup banyak. Dengan dana itulah partai-partai tersebut menguasai media massa. Opini masyarakat pun dibentuk sedemikian rupa sehingga terjadilah pencitraan ‘baik’ pada partai-partai tadi.
Selain itu, dengan uang itu pulalah muncul jual beli suara baik dalam tataran pencoblosan maupun pemilihan kepala negara oleh para wakil rakyat. Semaraklah di sana-sini politik uang (money politics). Akhirnya, disadari atau tidak, para anggota legislatif dan elite penguasa dicukongi oleh pengusaha. Konsekuensi logisnya, produk perundang-undangan yang dibuat tidak begitu saja dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan para konglomerat. Bila tidak, logika di benak elite penguasa mengatakan akan terjadi kemandegan di dalam pembangunan perekonomian sebab sangat boleh jadi para pengusaha mengalihkan investasinya ke luar negeri. Apalagi, pada era swastanisasi seperti sekarang ini.
Tidak berhenti sampai di situ, penguasa dalam menelurkan produk perundang-undangan selalu berupaya melihat ‘kehendak rakyat’ agar memang terkesan demokratis. Namun, parameter ‘kehendak rakyat’ tadi adalah media massa. Padahal, media massa tidak mungkin dikuasai kecuali oleh mereka para kapitalis yang memang memiliki modal. Dengan demikian, opini dan tekanan media massa pun tidak dapat begitu saja dilepaskan dari kepentingan politik dan ekonomi para konglomerat pemiliknya. Akhirnya, dengan alasan mengikuti ‘kehendak rakyat’ tadi para anggota legislatif bukannya membela kepentingan rakyat, melainkan membela kepentingan para konglomerat. Elite penguasa pun – yang sebagian juga merupakan pengusaha – berupaya untuk membesarkan, melindungi, bahkan membela kepentingan-kepentingan pengusaha tersebut. Semaraklah dimana-mana KKN. Dengan demikian, dalam realitas sistem demokrasi termasuk di Amerika sebagai negara dedengkotnya demokrasi, telah terjadi penyulapan kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan para pengusaha dan konglomerat (ra’simaliyyun).
Kasus BBM, UU PMA, UU SDA, dan kasus Monsanto bisa menjadi contoh aktual. Kasus kenaikan BBM dulu misalnya, data dari LSI, 90 % lebih rakyat tidak menghendaki harga BBM naik. Namun, Pemerintah berkomplot dengan DPR tetap saja tidak menghiraukan aspirasi mayoritas rakyat. Kenapa? Karena yang berdaulat sesungguhnya adalah para raja minyak. Para kapitalis. Jadi kedaulatan di tangan rakyat adalah omong kosong dan utopi!
Pemenang Tidak Selalu Benar
Dalam demokrasi, pemenang ditentukan oleh suara terbanyak. Namun, dalam kenyataannya para pemilih itu tidak banyak mengetahui secara persis realita yang terjadi. Opini yang dibentuk media massalah yang banyak menentukan sikap masyarakat. Dengan demikian tolok ukur pemilihan wakil rakyat bukannya didasarkan pada tolok ukur rasional melainkan masih banyak yang didasarkan pada pilihan emosional (dalam pemilu 7 Juni yang lalu, konon pemilih rasional hanya sekitar 3 % saja). Terlebih-lebih yang dipilih itu bukannya orang yang secara transparan diketahui seluk beluk dan latar belakangnya, karena hanya muncul saat kampanye. Sedangkan, siapa yang akan terpilih terserah kepada partai masing-masing. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila diantara anggota legislatif terpilih banyak non muslim seakan merupakan hal biasa, siapapun menjadi anggota legislatif tidak apa-apa, cukong dan petualang politik terpilih menjadi wakil rakyat juga tidak jadi soal, bahkan ada anggota dewan yang terlibat obat-obatan terlarang pun suatu hal yang dirasakan biasa, Bila sudah terjadi begini, harapan apa yang masih dapat digantungkan?
Konsep Suara Mayoritas
Memang benar, realitasnya masyarakat tidak mungkin semuanya duduk di pemerintahan. Oleh karena itu, suatu hal yang wajar muncul konsep perwakilan rakyat. Suatu hal yang patut dicermati adalah klaim sistem demokrasi terhadap suara mayoritas wakil rakyat di parlemen sebagai suara mayoritas rakyat.
Dalam kenyataannya, telah terjadi pengalihan dari mayoritas rakyat ke minoritas rakyat. Bagaimana tidak, untuk menjadi anggota legislatif seseorang perlu mengantongi suara dengan kuota tertentu. Konsekuensinya, seorang wakil rakyat setara dengan jumlah rakyat dengan kuota tersebut. Setiap pikiran, saran, sikap, dan keputusan dari setiap anggota legislatif dianggap selalu setara dan senantiasa mewakili sejumlah orang tersebut. Padahal, realitasnya ‘wakil rakyat’ tersebut tidak pernah meminta pendapat rakyat yang diwakilinya, rakyat tidak dapat mengoreksi apalagi memecatnya. Kalaupun di-recall bukan oleh rakyat melainkan oleh pimpinan partainya. Dengan demikian, sebenarnya keputusan-keputusan yang diambil oleh para anggota legislatif sekalipun diakukan sebagai suara rakyat, hakikatnya telah beralih kepada suara anggota legislatif itu secara individual. Jelaslah, yang menetapkan berbagai keputusan itu dengan sendirinya menjadi para anggota legislatif itu sendiri yang , tentu saja, merupakan minoritas rakyat. Dengan demikian, klaim demokrasi bahwa pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas anggota legislatif merupakan juga suara mayoritas rakyat tidak sesuai dan tidak akan pernah sesuai dengan realitasnya.
Satu hal lagi, apakah suara mayoritas itu pasti benarnya ? Bila jawabannya didasarkan pada pelogikaan manusia maka boleh jadi jawabannya : Ya. Namun, ternyata Allah SWT Dzat Yang Maha Tahu menyatakan sebaliknya. Kebenaran bukan ditentukan oleh mayoritas atau minoritas suara melainkan ditetapkan berdasarkan dalil syar’i. “Dan apa-apa yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah ! Dan apa-apa yang dilarang oleh Rasul maka jauhilah !,” demikian firman Allah di dalam surat Al Hasyr ayat 7. Bahkan Allah SWT menegaskan dalam banyak ayat Al Quran bahwa sesungguhnya kebanyakan manusia itu tidak beriman (Al Baqarah : 100), membenci kebenaran (Az Zukhruf : 43), fasik (Ali Imran : 110), tidak menggunakan akal (Al Maidah : 103), tidak mengetahui (Al An’am : 37), bodoh (Al An’am : 111), tidak bersyukur (Al A’raf : 7), mengikuti dugaan (Yunus : 36), musyrik (Yusuf : 106), berpaling dari ajaran Allah SWT (Al Anbiya : 24), pendusta (Asy Syu’ara : 223), tidak mendengar kebenaran (Fushilat : 4), dan masih banyak ayat-ayat lain. Berdasarkan hal ini tepat sekali ungkapan Syeikh Ali Balhaj (‘Aqidah Dimukrothiyah, hal. 14) bahwa konsep suara mayoritas gaya demokrasi merupakan khurafat.
Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Jimly Assiddiqy dalam kesempatan Silaknas ICMI beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa demokrasi memang telah membawa cacat bawaan. Nah, mestinya kita tidak terjebak dalam pola pikir democratic trap (jeratan demokrasi). Untuk memperbaiki negeri ini kita harus keluar dari kotak pemikiran konvensional (out the box), sehingga akan muncul pikiran-pikiran alternatif yang jernih, tidak sekedar defensif apologetik tatkala menghadapi serbuan pemikiran dari Barat. Karena kata Samuel P Huntington tadi, Barat ternyata maju bukan karena keunggulan pemikiran, ide atau konsepnya namun karena kemampuan mengelola kekacaun alias imperialisme. Lantas untuk apa kita ikut-ikutan mengadopsi dan memasarkan ide-ide Barat ?
Juni 12, 2008 pada 4:59 am
abdul khaq
Terus lah berjuang demi kedamaian & kemedekaan berpendapat dalm berkeyakinan,krna kberadaan bangsa ini jga krna keberagaman suku,agama & keprcayaan..Terus galang anti kelompok yg mengataasnamakn agama dg kekerasan terutama FPI dan konco-konconya!!!
Juni 14, 2008 pada 9:08 am
Dhimas L N ---- (^-^)v
selamat buat AKKBB. anda sudah berhasil memecah belah umat Islam.
info saja, segera mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama kepada AKKBB.
salam saya buat om Dur (jaga baik2 tuh orang, sebelum saya tendang kalau dia mulai cari gara-gara lagi. dasar kyai aneh, udah tua bukannya tobat)
kalian juga aneh, yg sesat dibela.
aqidah itu nomor satu.
Juni 26, 2008 pada 4:29 am
markus
teman2 AKKBB, kita seharusnya jangan memecah belah indonesia donk…
malu sama negara yang udah maju. kalian cuma mentingin duit dari asing tanpa peduliin kemajuan indonesia. ayo donk, eratkan lagi semangat persatuan. bukan mencari musuh didalam negeri ini. saya pun sebagai orang nasrani mengutuk AKKBB yang melampaui batas. merusak agama lain, memecah belah orang islam. saya jika jadi orang islam pun akan bertindak yang sama seperti FPI. ingat itu aktifis tukang buat proposal!!!
Agustus 8, 2008 pada 11:18 am
che
gila……………, dari 163 komentar yang masuk, yang kontra ma AKKBB bahasanya parah banget.
jangan-jangan lulusan pesantren standarnya dah turun banget,
September 12, 2008 pada 9:13 am
Faizal
Salut kepada AKKBB ! Teruskan perjuangan kalian ! lepaskan Indonesia dari penjajahan kaum wahabi/Arab Saudi yang memakai pakaian FPI, HTI, MMI dan gerombolan preman lainnya ! MUI kalian seperti dinubuatkan Rasulullah Saw dalam sebuah hadits, ” di akhir zaman seburuk-buruknya makhluk di kolong langit adalah para ulama !” Itulah MUI ! kalian kerjanya hanya mengadu domba, tidak layak disebut “pewaris nabi.”
Oktober 9, 2008 pada 6:16 pm
ADON
Bagus Banget ya AKKBB Kebebasan berkeyakinan dan beragama, tapi bebas apa……….
1. bebas untuk merusak Islam
2. bebas untuk mengobrak-abrik keyakinan islam
3. bebas untuk menolong keyakinan yang menghancurkan islam
Nga ada gunanya nich AKKBB dibentuk kalo cuma bikin agama lain marahhhhh apalagi keyakinan agama islam dirubah waduh repottt mas
boleh berteman dengan siapapun tapi kalu masalah Aqidah Masing 2x agama mas. baca dong surat Al-KAFIRUUN
Oktober 11, 2008 pada 6:07 am
Gomez
Tadinya aku pikir AKKBB itu keren banget, membela HAM!
Taunya AKKBVB ini organisasi yang norak memecahbelah kemurnian agama!
Kampungan sekali AKKBB!
Untuk FPI aku salut perjuangan membela agama, tapi tidak kekerasannya!
Ah dunia ini mirip sinetron, yang membela agama dihujat tap iyang membela liberalisme seperti kebusukan AKKBB dipuja-puji.
Dunia mirip sinetron… FPI bersabarlah dengan ketidakadilan ini.
Oktober 11, 2008 pada 6:09 am
Gomez
Tadinya aku pikir AKKBB itu keren banget, membela HAM!
Taunya AKKBVB ini organisasi yang norak memecahbelah kemurnian agama!
Kampungan sekali AKKBB!
Untuk FPI aku salut perjuangan membela agama, tapi tidak kekerasannya!
Ah dunia ini mirip sinetron, yang membela agama dihujat tap iyang membela liberalisme seperti kebusukan AKKBB dipuja-puji.
Dunia mirip sinetron… FPI bersabarlah dengan ketidakadilan ini.
Oktober 17, 2008 pada 10:03 am
Uchon
Ass.Wr.Wb.
Hai Admin kok tanggapan2nya banyak yg dihapusin sih, malu…ya. Oooo mungkin krn banyak nyang menghujat makanya dihapus.
Makanya membela jangan asal membela, liat kriterianya dulu mendukung pelecehan suatu agama atau mendukung yang melecehkan agama, janganlah anda bertameng dgn HAM. Apa sich itu HAM, dalam agama Islam sudah sangat lengkap..kap..kap..kap.
Tinggal kita memilih : HAM versi Islam atau HAM versinya Orientalis . Sebagai Muslim anda harusnya malu memilih HAM versi Orientalis dan itu tidak akan membela anda pada saat kita dikumpulkan di Padang Mahsyar utk mengikuti Persidangan Yang Maha Adil-seadil-adilnya. Ingat saudaraku pilihan ada di tangan kita janganlah kita salah memilih, krn hidup ini adalah pilihan. Sekian, Wassalaam
Oktober 19, 2008 pada 6:43 am
Pengamat
Aku udah sadar sekarang, ternyata AKKBB itu pejuang HAM humanisme liberal yang aneh…
Ayo FPI bersabarlah atas ketidakadilan di dunia ini, biarlah waktu yang menjawabnya!
AKKBB sebaiknya bubar saja!
Oktober 20, 2008 pada 2:56 am
arif
jelas kok elemen-elemen AKKBB itu memelas-melas dibawah ketiak asing. mereka melakukan itu hanya untuk sesuap nasi dan pemuasan nafsu hewani.
logika kebenaran dan hati nurani sudah tertutup demi pemuasan nafsu. kalau toh mau memperjuangkan kebebasan beragama. toh di indonesia ini semua agama bebas. mereka ambil yang enak-enak dan membuang jauh2 yang menurut mereka berat.
Oktober 20, 2008 pada 3:01 am
arif
silahkan cuap-cuap dengan bahasa yang “sistematis”, “menarik”, “logis”. toh hati2 mrk tidak bisa memungkiri kebenaran yang ada dalam hati nurani. To AKKBB selamat membohongi hati nurani.
Oktober 20, 2008 pada 12:51 pm
Shafira
Wahai umat Islam bersatulah
Rapatkan barisan jalin ukhuwah
Luruskan niat satukan langkah
Kita sambut kemenangan dakwah
Dengan persatuan galang kekuatan
Panji Islam kian menjulang
Tegak Kebenaran hancur kebathilah
Gemakan takbir Allahu Akbar!
Islam rahmat bagi semesta alam
Islam melindungi minoritas
Selama ia tidak menggembosi dan memerangi Islam
Islam itu tegas, Islam itu tidak galak
Islam itu rahmat bagi semesta alam
Oktober 20, 2008 pada 1:30 pm
Sarundayang
Dear buat temen-temen
Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman : ”Alif Laam Miim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman“, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al Ankabut : 1-3)
Percuma mengeluh, percuma sakit hati, percuma meneteskan air mata karena bukankah tantangan yang dihadapi akan tetap sama? Dia tidak akan bergeser sedikitpun jika kita tidak mau menggesernya, dia tidak akan mau beranjak apabila kita tidak mau mengusirnya.
Saat seseorang terdiam dan menyerah menghadapi ujian maka disitulah tanda bahwa iman di hatinya mulai hilang.
Bangkitlah wahai saudaraku, baik atau buruk hanyalah ujian semata. Syukur dan shabar adalah kuncinya!
Bubarkan AKKBB!
Oktober 21, 2008 pada 4:54 am
Hani Kania
Aku pikir juga begitu, dulu aku pikir AKKBB itu mulia membela keberagaman yang ada di Indoneisa tapi ternyata bukan, ada sesuatu yang ganjil di tubuh organisasi yang semakin aku rasa meresahkan ini.
Sebagai generasi muda Islam, aku menjadi terhenyak betapa Islam agamaku telah digembosi oleh para pejuang aktivis sekuler humanisme liberal AKKBB ini.
Namun aku tetap optimis, gelombang gerakan generasi muda Islam telah memberikan perubahan yang besar berdakwah di kampus-kampus sekuler! Subhanallah, semoga dakwah generasi muda Islam semakin dimudahkan, amin.
Saya salut dengan kehadiran Hizbut Tahrir, Partai dakwah yang santun, atau FPI (walaupun tidak untuk kekerasannya FPI) tapi salut perjuangannya! Mari generasi muda Islam bersatu melawan humanisme liberal dan produk-produk kapitalisme sekuler lainnya! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Benar rasanya dunia mirip film dan sinetron, yang benar dihujat tapi yang buruk seperti AKKBB dipuji dengan menggunakan topeng demokrasi yang salah kaprah kepentingan pihak asing.
Gus Dur dan AKKBB sama-sama bikin kita bingung! Untuk kita melek melihat fenomena perkembangan AKKBB ini, sehingga kita tidak dilenakan oleh yang namanya HAM yang salah kaprah.
Semoga presiden Indonesia kedepannya dipimpin oleh seorang yang seperti Mahmoud Ahmadinejad (presiden Iran) yang sederhana dan bersahaja, tegas menjalankan agama, santun dan melindungi kaum minoritas dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, insya Allah.
Oktober 22, 2008 pada 1:16 pm
Willem
AKKBB is just a doll, a hoax, it’s so corny
Oktober 24, 2008 pada 6:41 am
Pro Islam
Saya rasa semua faham lah apa organisasi AKKBB ini, terutama kaum intelek yang melek dengan pergerakan humanisme liberal yang menjadi produk basi demokrasi yang diagungkan AKKBB dkk.
Umat Islam harus waspada, jangan sampai agama ini digembosi oleh para mafia demokrasi salah kaprah, makan tuh kebebasan! Kebablasan!
Majulah Indonesia,
Umat Islam bersatulah rapatkan barisan
Umat minoritas bersatulah rapatkan barisan
Raih kemenangan dakwah
Hancurkan kebusukan berkedok demokrasi AKKBB!
November 8, 2008 pada 6:59 am
Uchon
Ass.Wr.Wb.
Satu lagi wahai saudara2 ku sekalian :
Apabila Islam diibarat satu Perkantoran maka:
1. Pasti ada Kemanannya diibaratkan seperti FPI, HTI, dsb
2. Pasti ada Resepsionisnya diibaratkan Aa Gym dgn MQnya, dsb
3. Pasti ada Pengelolanya diibaratkan PKS, DDII, dsb
4 dsb
Maka dari itu mari kita Perjuangkan Islam ini sesuai Profesi kita masing2 dan saling bekerja sama satu sama lain, janganlah menjadi “Parasit dan Penghancur” Islam seperti: AKKBB, JIL, “Ahmadiyah”, Aliran Sesat yg mengatas namakan Islam, dlsb.
Wassalaam
November 12, 2008 pada 6:15 am
Sumanto
Mas Anick, udah mengajukan proposal ke The Asia Foundation belum? Prestasi kalian kan tahun ini memasukkan Habib Riziq dan Munarman ke penjara. Tapi jangan bangga dulu. Saat ini kapitalisme sedang berproses menuju kebangjrutan. Jadi, tahun depat belum tentu dapat bantuan dari The Asis Foundation karena orang Amerika aja banyak yang nganggur jadi, tahun depan bersiap-siaplah jadi orang miskin. Karena semua bantuan dari The Asia Foundation ke semua negara termasuk Indonesia dijamin macet. Tapi semua pasti ada hikmahnya. Kalian bisa bertobat dan mencari rizki yang halal.
Januari 29, 2009 pada 2:43 pm
makcomblangsctv
Wahai kalian: orang2 yg berjiwa yg ingin menjadikan negara ini sebagai negara Islam sesungguhnya kalian ini sudah kalah sejak dahulu.
Sesungguhnya kalian ini adalah bukan orang indonesia (pribumi).
Orang Indonesia; adalah mereka yang berjuang atas dasar jiwa kebersamaan, persatuan dan kesatuan.
karena Bangsa Indonesia ini terbentuk dengan disatukannya segala macam perbedaan yang menjadi kekuatan, yang menjadi pondasi bangsa, yang menjadi darah dan nafas dari bangsa ini.
Dan jangan pernah mudah mengatasnamakan Tuhan, karena kalian tidak dapat mendahului kehendak Sang Pencipta.
Majulah para Nasionalis-Nasionalis bangsa ini.
Februari 2, 2009 pada 12:38 pm
nana
salam.
butuh bantuan nih. saya butuh profil lengkap tentang AKKBB. mulai dari sejarah terbentuknya, visi-misi, kegiatan, pengurus, dll. tolong banget yah. soalnya buat keperluan skripsi nih. kira-kira siapa ya yang bisa saya hubungi terkait hal tersebut? atas bantuannya, terima kasih banyak.
Juni 15, 2009 pada 4:09 am
Dewata Yugo
hehehe … Pancasila dan UUD 45 juga nggak menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan tanpa batasan kok … Nggak percaya … ? … Lihat sila pertama dari Pancasila dan UUD 45 pasal 29 … bahwa landasan negara adalah Ketuhanan Yang maha Esa … Dan berkaitan dengan itu … maka ayat 2 dari pasal UUD 45 itu artinya hanya menjamin kebebasan individu untuk beragama dan berkeyakinan selama landasannya adalah monothei … iya kan …? … Nah … lantas ada nggak hak bagi kelompok orang yang nggak percaya dengan eksistensi Tuhan/atheis … ato juga orang 2x yang ingin memeluk agama yang landasannya polytheis misalnya … ? …
… Jadi … kalo tujuan AKKBB ini benar 2x ingin memperjuangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan secara total … dan bukan sekedar untuk menyerang kelompok tertentu doang … bukankah mestinya pokok perjuangannya lebih kepada merubah ato meniadakan sila pertama dari pancasila dan juga pasal 29 ayat 1 dari UUD 45 … ???
Saya sendiri setuju jika kasus Ahmadiyah ato JIL tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan … Namun fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti ajaran mereka sudah tepat dan tidak bisa disalahkan … karena menurut kami … ajaran mereka yang mengatas namakan Islam itu memang sesat dan sudah bertentangan dengan ajaran Islam jika merefer pada apa yang tertulis di dalam Al Qur’an yang kami yakini kebenarannya … Jadi bagi saya … fatwa pengharaman Ahmadiyah dan paham pluralisme agama itu … bukanlah kasus mengekang kebebasan beragama dan berkeyakinan … namun lebih merupakan upaya untuk melindung umat dari penyebaran paham yang memang tidak sesuai dengan ajaran agama … Justru di sini mestinya pemerintah lebih pro aktif melindungi pemeluk agama 2x yang sudah ada dari upaya penyebaran paham yang menyimpang ini … bukan hanya bagi pemeluk agama Islam … tapi juga berlaku bagi pemeluk ajaran agama lainnya …
Sebagai perbandingan … Paus Benedictus XVI juga mengatakan bahwa yang bisa disebut gereja sejati itu hanya gereja Katolik … sedangkan yang di luar itu … termasuk yang Protestan … tidak dapat disebut sebagai gereja … karena Yesus hanya mewariskan satu gereja saja … Beritanya bisa dilihat di sini : http://www.msnbc.msn.com/id/19692094/ … Ato … gimana dengan larangan terhadap aliran Children of God … ato sekte hari kiamat … ? … Apakah itu juga merupakan pengekangan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan … ??? …
Agustus 8, 2009 pada 5:16 pm
madmad
Syariah,. tetap Syariah,.
Kalau memang kesalahan yang sampai menentang alquran hadist,. itu sudah mencela namanya,.
Hindari Islam Liberal.
Bubarkan saja AKKBB,..
ngawur semua,.
Oktober 6, 2009 pada 3:05 am
bekti ham
Jika apa yang ada dialam semesta ini adalah hasil ciptaan Sang Pencipta (yang dinamakan berlainan oleh komunitas manusia), maka sesuai dengan pemikiran manusia dizaman saat ini yang berdasarkan rasional, Sang Pencipta (Tuhan) haruslah dapat menjelaskan semua yang ada dialam semesta termasuk permasalah yang ada, melalui petunjuk yang telah ditetapkanNya (KitabNya). Melalui kebesaran hati dan kebijakan yang tercipta pula didalam diri manusia, agar manusia dapat menjadi penengah (bersaksi) didalam menjelaskan semua permasalahan yang terjadi, bahwasannya semua yang berjalan adalah rencanaNya semata, kita sebagai manusia hanya merupakan aplikasi tak lain dari perjalanan perintah/hukumNya yang diciptakanNya berupa Hukum Penyelamatan (penyelamatan = Selamat = Assalam = Islam = Salomo) (Hukum Islam = Hikmah Salomo = 10 perintah Tuhan tentang penyelamatan).
Tingal tanggung jawab kita sebagai HambaNya adalah sejauh mana kita memahami apa rencanaNya menciptakan alam semesta dan manusia serta berbagai Ilmu Ketuhanan (agama) yang tak lain untuk penyelamatan,
yang pada akhirnya sewajarnya dipahami bahwasannya rencana sang pencipta selalu mengarah pada kebaikan/ penyelamatan walaupun melalui contoh yang buruk (secara penilaian manusia), Hal ini hanya pada satu permasalahan yakni manusia belum mengetahui akan rencana besarNya, yang selama ini terpendam didalam makna akan kebangkitan Penyelamatan